Rabu, 24 Juni 2015

UPASPESIES: ISLAM NUSANTARA

Tidak..tidak. saya tidak akan banyak bicara tentang islam dalam tulisan ini. Anda jangan tertipu dgn judul yg aku buat. Pemahamanku tentang Islam tidaklah sedalam pemahaman ustadz. Tidak setinggi para sufi, tidak pula seluas alim 'ulama. Yg ingin kubahas dalam tulisan ini adalah "aku" dan "kamu", iya...kamu.

Jika aku mengaku bahwa aku adalah muslim, kmudian kamu juga mengaku sbg muslim..apkah itu akan membuat kita sama dan sejalan? Aku berharap kamu dapat sejalan denganku. Dan kamu juga berharap aku dapat sejalan denganmu. Ya, itu harapan yg mulia. Tapi, faktanya justru harapan itulah yg membuat aku dan kamu tidak sejalan, tidak sepaham dan tidak sependapat.

Awalnya kita mempunyai niat yg "sama", yaitu agar kita sependapat. Namun akhirnya harapan itu berujung bualan belaka, karena kita sama-sama ingin agar "aku sama denganmu" padahal aku adalah aku, dan kamu adalah kamu: dua eksistensi yg berbeda.

Ah, trlalu mbulet ya? Padahal aku hanya ingin mengucapkan bhwa jika semua sama, tidak ada yg namanya bersama. Jika hanya satu, tidak ada yg namanya bersatu. Jika kita ingin ada kebersamaan dan persatuan, maka syarat yg harus kita lihat sebelumnya adalah, perbedaan. Perbedaan itulah satu2nya hal yg dapat kita ajak utk "bersama".

Jadi, aku harus melihat kamu sbg kamu. Lalu kamu harus melihat aku sbg aku. Agar kita bisa berjabat tangan.
Jika aku hanya melihat aku dlm segala hal, menafikkan adanya kamu dan semua yg selain-aku. Dan kamu pun hanya melihat kamu dalam segala hal, mengingkari orang lain yg berbeda dengan kamu. Sehingga kita hanya ingin ada "aku" atau ada "kamu" saja: egois di dunia ini. Percayalah, kita akan menjadi orang tolol yg menjabat tangan sendiri, berusaha mencium pipi sendiri, dan tersenyum pada diri sendiri.

Aduh, masih mbulet ya? Padahal aku hanya ingin mengatakan bahwa jika di dunia ini hanya ada "aku" saja, atau hanya ada "kamu" saja, lalu dgn siapa kau akan berjabat tangan? Makanya, jgn coba2 berharap agar semua orang di dunia ini menjadi "aku" saja, menjadi satu saja: b e r b a h a y a. Tuhan saja ogah menjadikan manusia ini satu paham saja,kan?

Nah, sekarang bayangkan jika aku ini islam nusantara, dan kamu ini islam arab. Yah, kita berasal dari spesies yg sama- masih ada islam-nya,sih. Tapi kok kita punya nama belakang yg membuat kita terlihat seperti sub-spesies yg berbeda? Ada yg aneh? Ada yg tidak wajar? Ah biasa saja lah...

Kalo kita belajar biologi, kita akan dapati misalnya nama harimau sumatera, ada harimau benggala (india), ada pula harimau afrika. Lah, sama2 harimau kok punya nama belakang? Ya iyalah. Karena harimau itu mengalami transformasi (maaf, kata evolusi sudah terlanjur "dikafiri") agar bisa beradaptasi dgn lingkungan. Beda lingkungan, beda pola adaptasi---hingga akhirnya, taraa....muncullah upaspesies (upajenis) yg berbeda-beda, terpisah dari spesies utama karena pengaruh geografi.

Transformasi ini...halah Evolusi ini! Terjadi pada setiap makhluk yg ada di dunia. Hewan, tumbuhan, manusia, bahkan batu akik juga mengalami adaptasi dan terbentuk oleh lingkungannya. Membuatnya berbeda-beda, penuh warna yg tercipta sbg akibat dari hukum alam. Btw..batu akik yg beraneka rupa saja membuat kita terpesona, masak manusia yg beraneka warna enggak?

Lihatlah..dari nabi Adam terturun upajenis manusia. Ada yg hitam,putih,coklat, belang (panuan). Bukankah perubahan yg menimbulkan perbedaan itu mempesona? Jangan ingkari bahwa perubahan dan adaptasi adalah proses alam. Jika tidak menerima hal ini, apa kamu pikir kamu Tuhan yg tidak terkena dampak hukum alam, selalu benar, dan tidak perlu adaptasi? Hush!!!

Nilai-nilai islam yg suci diturunkan di padang Arab, merasuk ke dalam jiwa para manusia. Manusia itu bagian dari dunia, bohong jika tidak mengalami hukum alam yg berlaku di dunia.
Maka, tidak perlu marah2, buang-buang emosi, menebar caci, jika ada istilah-istilah upaspesies islam. Santai saja, anggap sebagai bahan kajian baru penambah ilmu. Toh Alloh sang penjaga, punya cara sendiri dalam menjaga Islam dan kitabul karimnya?

Jika kita tidak mau melihat pola-pola sunnatulloh ini secara santai dan penuh takjub, kita tidak akan berjabat tangan..hanya akan saling memotong tangan. Tidak akan bertukar ilmu..hanya akan berlempar bom--meledak seperti meteor yg memusnahkan spesies dinosaurus sampai punah. Lalu, jika Tuhan bertanya: kuberi kalian agama agar selamat dunia akhirat, kok malah punah??

Apa akan kita jawab? saling tunjuk lagi di hadapan Tuhan? aish!


Sumber Gambar: lightbox-core-net.blogspot.com

Minggu, 03 Mei 2015

5 Cara Hidup Tanpa Uang


Untuk kebutuhan “hidup” sebenarnya semuanya gratis. Namun gaya hiduplah yang membuatnya mahal.

Dalam dunia yang serba modern ini, manusia seakan tidak bisa dilepaskan dengan kegiatan ekonomi. Semuanya harus melewati transaksi jual beli. Sehingga uang menjadi barang yang sangat penting. Semuanya bisa dianggap beres jika ada uang. Segalanya dianggap memerlukan uang. Uang memang membuat banyak hal menjadi praktis. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa uang akhirnya juga menimbulkan banyak masalah sosial. Gaya hidup glamour dan konsumtif membuat banyak orang khilaf, melakukan perbuatan jahat hanya untuk mendapatkan uang.

Maka dari itu, jika kita ingin kembali hidup damai dan terhindar dari masalah yang ditimbulkan uang, kita bisa mencoba beberapa cara hidup tapa uang. Antara lain.

Pertama: Mulailah menanam.
Segala bahan pangan manusia itu sebenarnya tumbuh dari tanah yang terhampar di bumi. Bukan tumbuh di etalase-etalase supermarket. Kita bisa memulai dengan menanam bahan pangan di lahan yang kita punyai. Saat ini sudah banyak metode tanam ubi, padi, sayur, dan lain sebagainya dengan media Pot atau polybag. Jika kita konsisten menanam sendiri bahan makanan kita, maka kita tidak perlu membeli lagi.

Kedua: Mulailah mendaur ulang.
Betapa banyak bahan layak pakai yang terbuang sia-sia? Baju, barang elektronik, sampah plastik, semuanya terbuang sia-sia jika kita hanya menuruti nafsu konsumtif atau nafsu membeli. Padahal saat ini sudah ada begitu banyak metode untuk memanfaatkan bahan bekas agar menjadi barang berguna dan layak pakai. Kita harus mulai mendaur ulang sampah untuk kepentingan kita, agar kita tidak selalu membeli dan membeli.

Ketiga: Mulailah berolah raga.
Bersepeda atau berjalan kaki adalah gaya hidup sehat yang tidak memerlukan uang transportasi (bahan bakar minyak). Tuhan telah memberikan alat transportasi kepada manusia berupa kaki dan tenaga secara gratis. Ini seharusnya kita manfaatkan untuk kesehatan kita. Saat  ini sudah ada komunitas bike to work yang tidak memerlukan bahan bakar minyak untuk mobil atau ongkos untuk berangkat kerja. Hal ini patut kita tiru, agar kita menjadi sehat dan tentunya hemat.

Keempat: Mulailah melirik energy alternatif.
Saat ini, listrik bisa kita dapatkan dari cahaya matahari. Gas bisa kita dapatkan dari bio gas, kotoran yang diubah menjadi gas. Untuk ini, kita memang butuh modal awal. Tapi selanjutnya kita tidak perlu repot-repot membayar tagihan bulanan bukan?

Kelima: mulailah bersyukur.
Untuk kebutuhan “hidup” sebenarnya semuanya diberikan gratis oleh Tuhan. tapi, “gaya hidup” kitalah yang membuatnya menjadi mahal. Mari kita mulai bersikap bijak, dengan tidak bersikap konsumtif dan glamour. Mensyukuri apa yang sudah diberikan kepada kita untuk hidup.


Gambar: esabong.com

Sabtu, 02 Mei 2015

Hasil Menanam Padi dalam Pot



Kita semua pasti sudah kenal dengan tanaman padi. Tanaman yang menjadi bahan makanan pokok di negara kita. Saat ini padi di tanam hampir di semua lahan pertanian di wilayah Indonesia. Namun semakin hari jumlah lahan pertanian semakin berkurang akibat pembangunan. Hal ini menuntut kita untuk berpikir kreatif dalam menyikapi masalah ini. salah satunya dengan memanfaatkan area di sekitar rumah kita.

Tanaman yang biasa ditanam di area rumah adalah tanaman hias seperti bunga. Padahal, tanaman pangan seperti padi juga mempunyai potensi untuk tumbuh subur dalam pot atau polybag. Cara penanamannya adalah sebagai berikut:

  1. Memilih benih padi yang unggul. Cara memilihnya adalah dengan mencampur air dengan garam secukupnya, lalu rendam benih padi. Padi yang mengapung tandanya benih itu kurang bagus. Maka pilihlah benih padi yang tenggelam di dasar wadah. 
  2. Setelah anda mengambil benih padi yang tenggelam, lalu pindahkan dan rendamlah dalam air tawar selama satu hari untuk melunakkan kulit padi yang keras serta untuk merangsang pertumbuhan akar. 
  3. Buat wadah penyemaian benih. Bisa terbuat dari besek bambu, atau yang lainnya. kemudian masukkan tanah dan kompos dengan perbandingan 1 tanah : 2 kompos. (jika tanahnya satu genggam berarti komposnya dua genggam) lalu Aduk sampai rata. 
  4. Campurkan air dengan mol dengan perbandingan 15 air : 1 mol (jika airnya 15 tutup botol, maka MOL nya 1 tutup botol). Lalu siramkan pada wadah penyemaia benih yang sudah terisi tanah dan kompos tadi. 
  5. Taburkan benih yang sudah di rendam ke wadah penyemaian ini secara merata. Ingat, biarkan benih di permukaan saja. Tidak perlu ditimbun. Tunggu 6-7 hari sampai benih itu menjadi bibit padi dengan dua daun lembar kecil. 
  6. Siapkan pot, polybag atau ember bekas, lalu isi dengan campuran tanah dan kompos lalu siram dengan air dan mol seperti langkah membuat wadah di atas. Siram secukupnya sampai tanah menjadi becek saja, jangan sampai ada air yang menggenang. 
  7. Cabut bibit padi dari wadah penyemaian (cukup 1 atau dua helai bibit!), lalu pindahkan ke dalam pot. Ingat, satu pot cukup ditanamai satu atau dua helai bibit saja! 
  8. Rawat padi yang sudah ada dalam pot atau polybag. Setiap tiga hari sekali siram dengan air yang sudah dicampur dengan mol. Sedikit beri adukan ke tanah agar udara bisa masuk. Cabut rumput atau tanaman lain yang tumbuh di dalam pot karena bisa mengganggu pertumbuhan padi. 
  9. Setelah 3-4 bulan padi yang semula hanya dua helai itu bisa beranak menjadi puluhan helai. Dan siap dipanen bila sudah berwarna kuning.

Bagaimana hasilnya? Dari satu pot itu bisa menghasilkan kisaran 1 ons gabah kering panen (GPK) (tergantung juga dengan jenis bibit padi).
Jika dalam jarak 1 meter persegi mampu menampung 10 pot, maka 1 meter persegi mampu menghasilkan kurang lebih 1 kg gabah kering. Lumayan bukan? :D


Referensi: clearwaste.blogspot.com (uji coba Bapak Sobirin)
Buku ketrampilan tepat guna menuju wirausaha mandiri, Pramindo, Surakarta.
Gambar: Abahcheppy.wordpress.com

Sabtu, 25 April 2015

MENGAPA HARI MINGGU LIBUR?

Hari yang paling kita tunggu adalah hari minggu. Terutama jika kita adalah pelajar atau pegawai negeri. Yap..hari minggu adalah hari libur, dimana kita bisa bersantai dan bersenang-senang setelah enam hari (senin-sabtu) sibuk dan penat dengan pekerjaan-pekerjaan kita.

Pernahkah kita bertanya mengapa hari minggu itu yang dijadikan hari libur di Negara kita? Mengapa tidak hari-hari lain? Jawabannya masih berhubungan dengan nasib Negara kita yang pernah dijajah oleh bangsa kulit putih.

Pertama-tama kita perlu mengetahui sejarah peradaban bangsa Romawi. Bangsa Romawi kuno menganggap matahari sebagai dewa sehingga menyembahnya. Sehingga perlu ada hari khusus untuk menyembah sang matahari. Yang dipilih adalah hari minggu (dalam bahasa inggris Sun-day yang artinya hari matahari) karena hari itu dianggap hari pertama yang mengawali keseluruhan hari.

seperti yang kita ketahui bahwa kalender masehi yang kita pakai saat ini merupakan warisan dari kerajaan Roma yang merupakan penyembah dewa matahari, makanya hari minggu disucikan untuk menghormati dewa matahari sembahan orang roma.

Pada sekitar tahun 325 M, Raja Roma Konstantin masuk agama Nashrani. Agama ini mempercayai bahwa Yesus kristus yang telah berkorban untuk dosa-dosa manusia di dunia bangkit kembali pada hari minggu. Itulah mengapa umat kristiani beribadah pada hari minggu. agama Nashrani ini kemudian menyebar hampir di seluruh wilayah Eropa. Termasuk  Portugis dan Belanda

Dimulai dari sini, kedatangan bangsa Portugis hingga Belanda yang menyebarkan pengaruhnya ke Indonesia membuat culture yang mirip dengan mereka. Sejatinya, hari minggu libur adalah hari untuk beribadah. Hal ini hampir sama di kebudayaan timur tengah yang menjadikan hari Jum’at sebagai hari libur, karena Jum’at adalah hari untuk beribadah kepada sesembahan mereka.

Meskipun mayoritas warga Negara kita adalah muslim, namun pengaruh asing yang sempat mampir ke Indonesia memang tidak bisa sepenuhnya hilang.

Jadi..hari libur sejatinya tidak sebatas digunakan untuk bersantai dan bersenang-senang. Karena itu adalah hari beribadah J

Jumat, 17 April 2015

Manusia dikutuk untuk berdemokrasi

Pria yang tampan dan gagah itu sedang gelisah di samping sebuah makam, makam Gurunya. Gurunya yang dihukum mati, meminum racun cemara karena “menyuarakan gagasan dan kritikannya” pada masyarakat dan pemerintah. Pemerintah Athena yang demokratis!


Selain itu, alasan kedua gelisahnya pria itu adalah tumbangnya tanah airnya yang demokratis akibat serangan dari Sparta, sebuah Negara yang menerapkan sistem aristokrasi dengan junta militernya yang kuat. Sparta dengan rezim militer yang dictator sangat perkasa walau wilayahnya kecil. Mereka mewajibkan pendidikan militer bagi segenap pemuda di wilayahnya. Sementara Athena yang luas menjadi lemah karena demokrasi!


Pria itu, yang bernama Plato, adalah seorang filosof yang suka berpikir secara mendalam. Mungkinkah demokrasi adalah sebuah kutukan? Pada awalnya itulah pertanyaannya. Kemudian dia menyelidikinya.


Pertama, Plato melihat bahwa sebuah Negara yang ideal adalah yang berlandaskan kebajikan. Manusia tidak bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. maka, manusia membentuk sebuah persekutuan yang disebut Negara. Dari sini, maka, pembagian tugas menurut keahlian masing-masing sangatlah diperlukan. Tiap warga melaksanakan keahliannya dengan kesadaran akan kebajikan.


Maka dari itu, yang pertama dia pilih adalah aristokrasi. Dimana aristokratlah yang membuat aturan dan kebijakan Negara, karena mereka adalah cendekiawan negara. Tapi, tidak bisa dielakkan jika setelahnya, keturunan aristokrat ini, yang dengan mudah mendapat kekuasaan, yang tidak memahami arti perjuangan, yang tidak merasakan kesusahan, akan mengubah Negara menjadi Timokrasi. Para generasi baru ini tidak berorientasi pada kepentingan bersama melainkan telah menjadi orientasi untuk menyenangkan diri sendiri. Kekuasaan yang mereka miliki digunakan untuk kesenangan, kemuliaan, dan kepentingan diri mereka sendiri.


Kemerosotan akan berlanjut ke Oligarki. Beberapa orang tidak lagi hanya membuat aturan Negara. Tapi, menguasai Negara! Para junta di Sparta adalah contohnya. Mereka memerintah dengan bengis dan kejam. Sehingga rakyat nampak menjadi seperti budak belaka.


Selanjutnya, rakyat yang tertindas oleh oligarki, akan memberontak dan menuntut kebebasan. kebebasan bersuara, bebas berpendapat, bebas memilih pemimpin. Sehingga akhirnya Negara jatuh pada Demokrasi. Pada sistem demokrasi yang begitu menggoda, Plato hanya bisa membayangkan bahwa: bagaimana jika manusia yang cenderung ceroboh dan rakus itu mendapat kebebasannya?


Manusia akan senang mendapat kebebasan, karena bisa “bebas membuat kekacauan” agar bisa mendapatkan yang diinginkan, sembari menghardik yang tidak sepaham. Tidak ada pemimpin yang dihargai, tidak ada aturan bersama yang benar-benar ikhlas disepakati. Semua mencintai negri dengan caranya masing-masing. Negara akan menjadi lemah dan terpecah. Dan..yang lebih buruk adalah, gerombolan mayoritas yang akan menindas minoritas, seperti terbunuhnya Scocrates, gurunya.


Begitulah, demokrasi dalam pandangan plato adalah sebuah “jalan keluar terakhir yang akan menjadi kutukan!”
**


Dalam kegelisahanya, Plato dikejutkan oleh suara muridnya, Aristoteles.
“Terlalu ekstrim itu tercela, Plato. Termasuk terlalu gelisah. Hanya dengan bersikap sederhana dan biasa saja, kita bisa bahagia. Karena itu berarti selaras.” Aristoteles mengucapkan kata yang pernah diajarkan Plato.


“Benarkah kebebasan manusia itu adalah kutukan? Tapi, bagaimana manusia bisa menjadi manusia, tanpa kebebasan?” Plato menyahut.


“Zoon politicon, Plato. Hewan berpolitik, itulah manusia. Kebebasan manusia itu terbatas pada kebebasan manusia yang lain. Maka dari itulah, manusia bersahabat. Dan bentuk persahabatan tertinggi manusia, adalah Negara.”


“Aristoteles, kau semakin pintar. Kuharap orang sepertimu bisa menjadi raja. Karena, kejahatan belum bisa berakhir sebelum filosof dijadikan raja, atau raja-raja menjadi filosof.”


“Aku mengasihimu, Plato. Tapi aku lebih mengasihi kebenaran. Kau adalah sosok yang terlalu idealis. Suka berkhayal akan hal-hal yang utopis. Faktanya, dunia ini tidak bisa sempurna. Bahkan jika seorang filosof menjadi raja. Jika saja ada seorang raja yang sempurna, aku sepakat denganmu. Tapi….
Negara yang monarki, akan segera menjadi tirani. Yang aristokrasi, akan segera menjadi oligarki. Aku sempat tertarik dengan sistem Politea, karena sistem ini yang paling realistis. Polity adalah sistem dimana kekuasaan berada di tangan orang banyak. Diakuinya pemikiran banyak orang, tidaklah dapat menjamin tercapainya kebenaran, tetapi sedikit banyak telah mengandung unsur-unsur kebenaran dan bahkan jauh lebih baik dari pemikiran beberapa orang. Dalam sistem ini, diperlukan landasan hukum yang jelas. Maksudnya, meskipun dalam kebebasan, tetap ada aturan yang wajib disepakati bersama.


Namun Politea ini juga dapat merosot ke dalam Demokrasi. Sebuah sistem dimana rakyat benar-benar mendapatkan kebebasannya. Ya, kutukan yang tidak bisa dihindari manusia, nafsu untuk bebas.


Dalam demokrasi, aturan menjadi absurd. Bayangkan, setiap warga Negara berhak menjadi pemimpin walaupun tak pantas. “Hak” berada di atas “Pantas”. Maka, dalam sistem yang merupakan kemerosotan dari Politea ini, kita akan melihat orang-orang bodoh berhak menjadi pemimpin karena kriteria pemimpin bukan kualitas, tapi “berhak dan bebas”. Perbedaan politea dan demokrasi sangat tipis. Mungkin, kita tidak akan menyadari, kapan politea menjadi sebuah demokrasi.” Aristoteles menutup uraiannya, sementara Plato masih menatap makam Socrates, gurunya yang kritis dan cerdas.

Sinisme: Miskin adalah kebahagiaan yang tidak dapat dicuri!


Saat ini kemiskinan adalah sebuah hantu menyeramkan yang menghantui semua manusia. hal ini dapat terjadi saat makna miskin hanyalah “kekurangan materi” belaka. Andai saja miskin dimaknai sebagai bentuk “terlepasnya manusia dari penjara materi” maka kemiskinan justru dapat menjadi malaikat penyelamat manusia dari rasa sedih dan gelisah.


 Kita bisa mengambil contoh dari kaum sinisme. Aliran Sinisme didirikan oleh Anthistenes di Athena pada tahun 400 SM. Anthistenes adalah murid Socrates yang sangat tepukau dengan kesederhanaan gurunya. Seperti kita tahu, Socrates adalah seorang filosof yang terkenal “zuhud”. Pernah pada suatu ketika dia berdiri di pasar, melihat bermacam barang yang dijual. Kemudian dengan lantang dia berucap “Lihatlah..betapa banyak barang yang sejatinya tidak kuperlukan!”


 Kaum sinis menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidaklah terdapat dalam kelebihan lahiriah seperti kemewahan materi, kekuasaan politik, atau kesehatan yang baik. kebahagiaan sejati hanya bisa didapatkan saat manusia terlepas dari segala bentuk ketergantungan pada segala sesuatu yang acak. Dan karena kebahagiaan tidak akan didapatkan dari kuntungan-keuntungan semacam itu, maka semua orang dapat meraihnya. Dan yang lebih penting adalah, kebahagiaan yang di dapat dari melepaskan diri dari segala ketergantungan itu akan abadi. Sekali di dapat, dia tidak akan terlepas lagi.


 Jika kebahagiaan itu terletak pada emas, maka jika emas itu hilang maka hilag pula kebahagiaan. Jika bahagia terletak pada ketampanan atau atau kecantikan, maka kebahagiaan akan berangsur sirna seiring umur yang menua. Kaum sinis percaya bahwa kebahagiaan itu haruslah abadi..


 Kaum sinis yang paling terkenal adalah Diogenes, salah seorang murid Anisthenes. Yang konon dia hidup dalam sebuah tong dan tidak memiliki apapun kecuali sebuah mantel, tongkat, dan katong roti. (sehingga tidak mudah mencuri kebahagiaan darinya!). Pernah pada suatu hari,  ketika dia sedang duduk di samping tongnya menikmati cahaya matahari, dia dikunjungi oleh Alexander Agung. Sang Raja berdiri di hadapannya dan bertanya apakah dia dapat melakukan sesuatu untuk membantu Diogenes. “Ya..” Jawab Diogenes. “Bergeserlah ke samping, anda menghalangi cahaya matahariku..” demikian Diogenes membuktikan bahwa dia tidak kalah bahagia dengan Sang Raja yang berdiri di hadapannya. Diogenes merasa sudah memiliki segalanya untuk bahagia!


Kaum sinis juga percaya bahwa orang juga tidak perlu memikirkan kesehatan. Bahkan penderitaan dan kematian pun tidak boleh mengusik kebahagiaan mereka. Secara ekstrim mereka juga merasa tidak perlu menderita karena memikirkan penderitaan orang lain. Mereka berpikir orang lain masih merasa menderita karena mereka menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu. Sehingga kaum sinisme tidak mempedulikan apapun selain kebahagiaan dengan meninggalkan ketergantungan pada apapun.


Karena itulah, kini istilah sinis banyak diartikan sebagai bentuk cemoohan kepada ketulusan manusia, serta ketidakpedulian terhadap penderitaan orang lain.

Minggu, 12 April 2015

SISI BAIK KEJAHATAN


Tulisan ini penulis buat setelah teringat peristiwa ganjil yang terjadi beberapa waktu silam. Saat itu penulis sedang menemani belajar membaca Alqur’an warga binaan di sebuah Lembaga Pemasyarakatan. Napi yang dibina di Lp ini terdiri dari berbagai modus tindak pidana mulai dari pencurian, pemerkosaan, perampokan, bahkan ada pelaku pembunuhan.


Di sebelah barat Masjid yang digunakan untuk belajar mengaji terdapat sebuah ruang istirahat yang biasa digunakan warga binaan untuk beristirahat setelah melakukan kegiatan. Di ruang itu terdapat sebuah televisi ukuran 14 inchi yang digunakan sebagai hiburan seluruh warga pada jam-jam tertentu.


Hari itu sebelum acara belajar mengaji dimulai, para warga masih menonton sebuah film di televisi itu. di sinilah keganjilan yang penulis maksud terjadi. Saat film itu menampilkan adegan tokoh antagonist (musuh) melakukan kejahatan pada tokoh protagonist (baik), para warga pun menunjukkan kegeraman dan ketidak sukaannya. Ternyata meskipun para warga binaan ini adalah pelaku kejahatan, nyatanya mereka juga benci sebuah perlakuan jahat yang mereka lihat (dalam televisi).


Ya, bahkan seorang perampok pun bisa membenci tindakan perampokan. Seorang pelaku penganiayaan pun benci melihat tindakan kekerasan. Mereka begitu benci melihat tokoh antagonist yang melakukan kejahatan, dan Sebaliknya begitu menyukai tindakan-tindakan kebaikan yang dilakukan oleh tokoh protagonist.


Apakah anda tidak merasa ganjil? Manusia yang begitu mencintai kebaikan, bisa menjadi pelaku kejahatan?


Dari situ penulis merasa tersenyum. Janganlah anda terburu melihat sosok warga binaan di penjara yang melakukan kejahatan. Kita ambil contoh diri kita sendiri. bukankah kita yang divonis “orang baik” ini tidak sepenuhnya baik? kita pasti pernah melakukan kejahatan-kejahatan yang merugikan kita sendiri atau orang lain.


Mahasiswa akan senang jika menjadi pintar dan berprestasi. Tapi, mengapa plagiasi, mencontek, membolos, dan perbuatan tidak baik lainnya tetap dilakukan? Saat ditanya pendapat kita tentang orang tamak dan sombong, pasti kita akan menjawab itu tidak baik. tapi, hasrat kita kerapkali bergetar ketika melihat uang melimpah atau mobil mewah. Para aktivis akan terbakar semangatnya jika membaca sejarah perjuangan dan kebaikan pahlawan masa lalu, namun mengapa ada saja aktivis menjadi koruptor setelah menjadi pejabat?


Artinya, secara pribadi memang saya harus mengakui bahwa saya sangat menyukai kebaikan. Tapi, saya tidak selalu bisa menjadi orang baik. saya sangat membenci kejahatan. Tapi, terkadang saya melakukan perbuatan buruk dalam kondisi sangat sadar. Maaf, tapi saya rasa, sebagai manusia anda juga seperti itu :-D


Entah benar atau tidak, saat saya melihat keganjilan itu saya melihat wujud sejati manusia yang suci, dan selalu menyukai kebaikan. Film, dalam hal ini menyajikan “khayalan” terpendam para warga binaan tentang kebaikan yang mereka rindukan. Namun dunia nyata, menyajikan kenyataan yang terkadang berlawanan dengan khayalan mereka. Hal inipun sering terjadi kepada kita.


Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, jika memang manusia hakikatnya menyukai kebaikan..lalu dari mana kejahatan itu muncul?


Socrates mengatakan bahwa manusia berbuat jahat karena mereka tidak tahu apa yang baik bagi dirinya. Pengetahuan yang benar akan mengantarkan manusia kepada jalan yang benar. Ilmu psikologi mengatakan sifat/tabiat bawaan lahir manusia ataupun hasil pengaruh dari lingkungan sosial bisa jadi penyebabnya. Aktivis mengatakan tekanan kebutuhan hidup, kurangnya perhatian pemerintah adalah faktor maraknya kejahatan. Agamawan mengatakan nafsu dan syetan biang keladinya. Orang awam mengatakan dengan wajah polos, “ya… semua teori itu benar dan dapat menjadi alasan mengapa manusia berbuat jahat.”


Namun pada diri saya dan pada diri mereka (yang berbuat jahat), saya melihat sesuatu yang dinamakan dengan rasa kecewa. Keinginan dan khayalan kita berbeda dengan kenyataan di depan mata. Rasa kecewa ini membuat kita terjatuh pada perbuatan yang merugikan diri sendiri ataupun orang lain.


Kita ingin pintar, tapi materi pelajaran begitu sulit. Kita ingin kaya, tapi hegemoni kapital terus berkuasa. Kita ingin mendapatkan orang yang kita cinta, tapi dia mencintai orang lain. Kita ingin skolah tinggi, tapi dana tak mencukupi. Dan ada begitu banyak kenyataan-kenyataan lain yang bertentangan dengan harapan kita. Ketidak siapan kita menerima kenyataan itu membuat kita kecewa sehingga kita berbuat nekat dan bertindak buruk melanggar etika dan norma yang telah disepakati bersama.


Maka, jika kita terus menuruti rasa kecewa kita..kita akan benar-benar menjadi seorang penjahat yang hanya mengkhayal dan mengoceh tentang kebaikan tapi bertingkah buruk secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan. Karena apa? Karena dunia pasti akan mengecewakan. Dia merayu dan menggoda manusia, dia menguji manusia…ketika manusia terlarut (kadunyan) maka dunia akan membenamkan kita pada rasa kecewa sepanjang masa. Itulah tugas dunia.


Besar keyakinan saya bahwa semua orang memendam rasa cinta pada kebaikan. Namun, Untuk menjadi baik, pintar, alim, mampu menjaga jiwa-raga dari syetan..memang perlu usaha dan keteguhan. Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menghadapi kenyataan dunia yang memang tidak selalu sesuai dengan harapan. Semoga kita diberi kekuatan untuk berteguh diri agar tidak terjerumus ke perbuatan buruk akibat rasa kecewa pada dunia. Karena seperti ucapan di atas, tugas dunia adalah membuat manusia kecewa.